Sabtu, 30 November 2013

Mom Tells Son: If She Wants To Have Sex, Get Her To Text ‘Yes’ First



By NewsOne Staff


Roxanne Jones, a former executive at ESPN, writes that men should get a girl to text “yes” before having sex. Is she right or is her advice too extreme? Should mothers be encouraging their sons to get a woman to text consent before they engage in sexual intercourse?
 
Take our poll below!
Sounds extreme, but not for Roxanne Jones, a former executive at ESPN, who says such motherly advice can potentially help save her son from a false rape accusation. In an op-ed published on CNN, Jones encourages other moms to follow her lead, arguing, in part, that sex has evolved over the years to such a degree that parents “still fail to discuss sex and evolving sexual mores frankly with our sons and daughters, all this freedom has led to confusion about the ever-changing rules of engagement when it comes to sex.”

Roxanne Jones
To be sure, she makes it clear in her piece that “no” means “no” and that no woman asks to be rape. However, Jones highlights statistics from the National Institute of Alcohol Abuse and Alcoholism which reveal that about 97,000 students between the ages of 18 and 24 are victims of alcohol-related sexual assault or date rape. Such circumstances further complicates the meaning of consent, Jones argues.

So, in order to remove any doubt about consent, Jones recommends the following: Never have sex with a girl unless she’s sent you a text that proves the sexual relationship is consensual beforehand. And it’s a good idea to even follow up any sexual encounter with a tasteful text message saying how you both enjoyed being with one another — even if you never plan on hooking up again.
 
Crazy, I know, but I’ve actually been encouraging my son and his friends to use sexting — minus the lewd photos — to protect themselves from being wrongly accused of rape. Because just as damning text messages and Facebook posts helped convict the high-schoolers in Steubenville of rape, technology can also be used to prove innocence.
How to protect yourself from false rape allegations is a constant conversation among professional athletes. I’ve covered many rape cases over my career, including those of Kobe Bryant, the Duke lacrosse team, and many others that never made the headlines. Sports agents and athletes have tried everything from openly or secretly recording their sexual encounters, which is illegal in some states, to asking all women they have sex with to sign a pre-consent form. And though the public may scoff at stories of athletes who frequent strip clubs or solicit prostitutes, many athletes say they do this to avoid unwarranted sex assault charges.
To be sure, Jones has plenty of critics:

Imagine a guy saying to you — "Hey, I'll sleep with you, but I need you to TEXT ME consent first." Hmmm. Read: cnn.com/2013/11/26/opi… #CNN— 

Brooke Baldwin (@BrookeBCNN) November 26, 2013
Roxanne Jones wants to invalidate the rapes of many, many people because they said yes to something that one time cnn.com/2013/11/26/opi…— 

Fiddler (@cFidd) November 26, 2013
instead of teaching your son to respect women tell him they're all whores who just want to wrongly accuse him of rape cnn.com/2013/11/26/opi…— 

Jessica Roy (@JessicaKRoy) November 26, 2013
If you ever write "Make no mistake, no woman..is asking to be raped. But…" maybe just step away from the keybord. cnn.it/1c7ilS7— 

Jake Grovum (@jgrovum) November 26, 2013
Indeed, Jones is suggesting a very unconventional way of protecting one’s self against false rape allegations, but is it extreme or is she on point?

Sound off!
Should Men Get A Woman To Text 'Yes' Before Having Sex?
YesNoOther:
Vote

Beckham admits Manchester United teammates made him perform embarrassing sex act in front of team



He detailed the incident in the upcoming documentary ‘Class of 92.’
By Mike Foss – November 29, 2013 at 1:48pm EST
(AFP) 
International soccer star David Beckham’s professional career began with Manchester United in 1992, part of a rookie talent pool that has been unrivaled more than 20 years later. In the upcoming documentary, Class of ’92, Beckham and former United teammates Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, and Paul Scholes recount their most intimate memories from their time with the club. Metro has unveiled details the former England captain shared about the hazing he experienced at United.
‘One of mine was surprising! The Clayton Blackmore!’
Recalling his teen horror, he said: ‘Everyone had an initiation that you had to go through on the youth team, that was one of the most uncomfortable ones!’
‘The fact that I had to look at Clayton Blackmore’s calendar and do certain things, while looking at Clayton Blackmore…’
‘I mean it was embarrassing to talk about!’
Forced to recall the full scale of the horror on camera for the documentary, the 38-year-old said: ‘I was embarrassed when I was saying it on camera let alone talking about it more. But it’s something that we all had to go through. It was definitely something I wouldn’t like to go through again!’
Beckham’s story comes in the wake of Miami Dolphins lineman Jonathan Martin’s allegations that he experienced locker room hazing throughout his time with the team. Martin’s claims are currently being investigated by the NFL.
Beckham began his career with Manchester United in 1991 as a member of the youth squad. When he turned professional, United loaned him to Preston North End from 1994-95. When Beckham returned to Manchester, his career skyrocketed.  Beckham and United won six Premier League titles, two FA Cups, and a UEFA Champions League trophy.

Sabtu, 05 Oktober 2013

"Pandhegan Aja "Adigang, Adigung, Adiguna, Sapa Sira Sapa Ingsun"


Gunungan
www.suaramerdeka.com – Sabtu, 23 Februari 2013 | 13:10 wib - Adigang, adigung, adiguna, sapa sira sapa ingsun. Adigang adalah ’kijang’ adigung ’gajah’ dan adiguna ’ular’ ketiganya mati bersama dalam pertikaian karena kesombongan masing-masing. Pemimpin (pandhegan) yang baik menghindari sikap aji mumpung, mumpung kuwasa, tumindak nistha, seperti ungkapan Ranggawarsita dalam Serat Sabdatama.

Pimpinan jangan diserahkan kepada yang tidak mau, maupun mereka yang ambisi, karena yang berambisi umumnya memiliki motivasi lain, seperti aji mumpung. Sifat aji mumpung bertentangan dengan dharma seorang pemimpin. Ia harus rendah hati, bijak, adil dan ber budi bawa leksana. Hal itu diungkapkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Witaradya, bahwa seorang raja yang besar, watak narendra gung binathara, mbaudhendha hanyakrawati, kutipan berikut: Dene utamaning nata, berbudi bawa laksana, lire ber budi mangkana, lila legawa ing driya, hanggung hanggeganjar saben dina, lire kang bawa laksana, hanetepi ing pangandika.

Pemimpin bangsa telah dipilih, melalui pileg dan pilpres. Siapa pun mereka pilihan bangsa. Tempat menggantungkan harapan dan masa depan yang lebih baik di bumi yang gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinumbas, tata titi tentrem kerta raharja, dalam arti murah sandang pangan seger kuwarasan, bukan hanya slogan. Mutiara kata itu harus direalisasikan oleh mereka yang mendapatkan amanah, sebagai perwujudan lukisan negeri Amarta yang didendangkan ki dalang dalam pentas wayang. Bukan sekedar impian, dengan memanfaatkan potensi alam anugerah Allah Swt. yang membentang sepanjang khatulistiwa, dalam bentuk hutan, gunung, laut dan sungai, simpanan harta karun yang tak ternilai harganya. Semua dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Mereka harus bekerjasama saiyeg saekapraya membangun bangsa. Eksekutif, legislatif dan yudikatif memiliki tugas membangun negara dan bangsa. Sebagai pemimpin mereka memiliki tanggung jawab yang cukup berat. Kesejahteraan rakyat tidak bisa diwakilkan, tetapi direalisasikan. Bila wakil rakyat hidup sejahtera bukan berarti rakyat pun meraskannya.

Janji
Pemimpin harus memegang teguh janji yang diucapkan di depan rakyat. Janji adalah hutang, yang wajib dibayar. Sabda pandhita ratu salah satu falsafah Jawa dan konsep pengejawantahan janji adalah hutang, yang didukung frase ajining diri saka obahing lathi ajining sarira saka busana, aja waton omong nanging omonga nganggo wawaton, ilat ora ana balunge, esuk dhele sore tempe, mencla-mencle, bukan sikap seorang pemimpin, melainkan konsep sedikit bicara banyak bekerja yang sebaiknya dipegang teguh. Mereka dipercaya oleh rakyat. Mengembalikan kepercayaan yang hilang lebih sulit dari pada membangunnya. Falsafah Jawa mengatakan bahwa drajat, pangkat lan semat bisa oncat. Hal itu menjadi bahan pertimbangan bagi para pemimpin. Di dunia tidak ada yang langgeng. Semua serba sementara, bagaikan kilat menyambar sekejap tanpa bekas. Saat mejabat ia terhormat dan dipuja, pergantian tiba, ia dihujat dan dihina, kawan dan sahabat seakan tak mengenalnya. Ia dilupakan. Mengenaskan.

Masyarakat Jawa percaya bahwa wahyu kaprabon, dalam diri seorang pemimpin masih ada. Asal pemimpin masih sanggup memberikan pangayoman, maka rakyat akan loyal. Seorang pemimpin harus waspada. Sebab di antara punggawa ada yang mbalela, sengaja berkhianat demi jabatan yang diincarnya. Bagi masyarakat konsep ratu adil, wahyu dan pulung merupakan trilogi dalam demokrasi. Sedangkan trilogi yang dianut oleh kraton Mangkunagaran, melu handarbeni, wajib hangrukebi, mulat sarira munggengwani. Bahwa seorang pemimpin harus merasa memiliki, membela kebenaran dan mawas diri. Mau mengakui kasalahan pribadi tanpa menyalahkan orang lain.

(Eko Wahyu Budiyanto/CN37)

"PENDIDIKAN DALAM KELUARGA": "Pandhegan Aja "Adigang, Adigung, Adiguna, Sapa Si...: Gunungan www.suaramerdeka.com – Sabtu, 23 Februari 2013 | 13:10 wib - Adigang , adigung, adiguna, sapa sira sapa ingsun. Adigang ...

Sabtu, 21 September 2013

Kamis, 04 Juli 2013

Slamet Priyadi: “Mulailah Dari Diri Kita Sendiri”

Slmet Priyadi Blog│Rabu, 04 Juli 2013│14:15 WIB
Image Slamet Priyadi (Foto: SP)
Slamet Priyadi
Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu pengajian majelis taklim kaun ibu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah. Dan kebetulan, majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan dakwah sang ustadz, salah satu di antaranya adalah istrinya sendiri. Ceramah yang disampaikan sang ustadz tentang pentingnya infak, begitu mempesona, ekspresif, simpatik, dan menarik. Suaranya begitu khas, terkadang lembut penuh perasaan, terkadang keras dan tegas. Sehingga beberapa jamaah sampai-sampai ada yang meneteskan air mata, menangis karena dakwahnya mampu menyentuh perasaan mereka, masuk ke dalam lubuk hati mereka yang paling mendalam, termasuk istrinya sendiri.
Setelah pengajian selesai, istri sang ustadz bergegas pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Ia segera melepas perhiasan gelang dan kalung yang ada di tangan dan lehernya. Ia juga mengambil sebagian harta dan emas yang disimpan di rumahnya lalu diinfakkannya dengan tujuan semata-mata karena Allah. 
 
Beberapa jam kemudian, setelah selesai menyampaikan dakwah di masjid, suaminya pun tiba di rumah. Sang ustadz segera menyapa istrinya dengan penuh perasaan cinta sambil membelai rambut istrinya sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya setiap pulang dari berdakwah. Akan tetapi ia sedikit terkejut dan heran, karena dilihatnya sang istri terkasih tidak mengenakan gelang dan kalung perhiasan. Ia pun bertanya kepada istrinya:
“Istriku, kemana gelang dan kalung perhiasan yang kau pakai di pengajian tadi? Kau tambah cantik dengan memakai perhiasan itu, istriku.” Tanya sang ustadz kepada istrinya sambil kembali membelai-belai rambutnya.

Istrinya pun menjawab pertanyaan suaminya dengan penuh manja: “Suamiku...! hampir semua majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan ceramah di pengajian, tersentuh hatinya oleh materi ceramahmu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah, termasuk istrimu ini. Bahkan aku pun ikut menagis pula tak bisa menahan haru. Setelah selesai, ibu ketua majelis taklim menyerukan kepada semua ibu-ibu anggota kelompok pengajian agar menginfakkan sebagian hartanya.  Maka dengan ikhlas penuh kesadaran sebagai umat Islam, aku pun menyerahkan pula gelang dan kalung perhiasan itu, bahkan sebagian harta yang masih ada akan aku serahkan pula untuk dikumpulkan oleh ketua pengajian yang selanjutnya akan diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.”
Mendengar jawaban dan penuturan istrinya, sang ustadz bukannya berbangga dengan apa yang telah dilakukan istrinya, tetapi malah kecewa dan sedikit marah: “Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini? Istriku! Semua kata-kata yang aku ucapkan dalam ceramahku tadi, itu bukan untukmu! Akan tetapi... untuk mereka hadirin kelompok pengajian yang lain, bukan engkau tahu!”
Nah, sobat! Jika kita cermati ilusterasi cerita di atas, tentu sangat paradok, bukan? Seorang penceramah yang mengajarkan ajaran syariat agama yang seharusnya harus dicontoh dan diteladani ucapan-ucapannya justru berbuat sebailiknya, tidak adanya satu kata dan perbuatan.  Bukankah Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Tidakkah kamu berfikir?” (QS. Al-Baqarah:44) 
Dengan demikian, sebelum menggebu-gebu menyuruh atau menasehati orang lain untuk berbuat baik atau berperilaku baik, sebaiknya terlebih dahulu melakukan perbuatan baik oleh diri sendiri. Sangat keliru dan salah besar jika menuntut atau menyuruh orang lain memiliki sifat-sifat baik sementara dia sendiri belum memiliki sifat-sifat tersebut. Orang bijak berkata, “Orang yang melihat dan mendidik dirinya sendiri adalah lebih berhak mendapat kehormatan daripada orang yang mendidik dan mengajari orang lain.”
Imam ‘Ali berkata, “Barang siapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku sebelum dengan lisan.”
Demikianlah! Semoga ada manfaatnya, terutama untuk diri saya sendiri! 
Referensi:
Khalil Al-Musawi,2002, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Jakarta: Lentera.
Penulis:
Slamet Priyadi, Pangarakan - Bogor
Posted:
Sita Rosita, Bogor 
 
 "PENDIDIKAN DALAM KELUARGA": Slamet Priyadi: “Mulailah Dari Diri Kita Sendiri”: Slmet Priyadi Blog│Rabu, 04 Juli 2013│14:15 WIB Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu p...