Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juli 2013

Slamet Priyadi: “Mulailah Dari Diri Kita Sendiri”

Slmet Priyadi Blog│Rabu, 04 Juli 2013│14:15 WIB
Image Slamet Priyadi (Foto: SP)
Slamet Priyadi
Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu pengajian majelis taklim kaun ibu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah. Dan kebetulan, majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan dakwah sang ustadz, salah satu di antaranya adalah istrinya sendiri. Ceramah yang disampaikan sang ustadz tentang pentingnya infak, begitu mempesona, ekspresif, simpatik, dan menarik. Suaranya begitu khas, terkadang lembut penuh perasaan, terkadang keras dan tegas. Sehingga beberapa jamaah sampai-sampai ada yang meneteskan air mata, menangis karena dakwahnya mampu menyentuh perasaan mereka, masuk ke dalam lubuk hati mereka yang paling mendalam, termasuk istrinya sendiri.
Setelah pengajian selesai, istri sang ustadz bergegas pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Ia segera melepas perhiasan gelang dan kalung yang ada di tangan dan lehernya. Ia juga mengambil sebagian harta dan emas yang disimpan di rumahnya lalu diinfakkannya dengan tujuan semata-mata karena Allah. 
 
Beberapa jam kemudian, setelah selesai menyampaikan dakwah di masjid, suaminya pun tiba di rumah. Sang ustadz segera menyapa istrinya dengan penuh perasaan cinta sambil membelai rambut istrinya sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya setiap pulang dari berdakwah. Akan tetapi ia sedikit terkejut dan heran, karena dilihatnya sang istri terkasih tidak mengenakan gelang dan kalung perhiasan. Ia pun bertanya kepada istrinya:
“Istriku, kemana gelang dan kalung perhiasan yang kau pakai di pengajian tadi? Kau tambah cantik dengan memakai perhiasan itu, istriku.” Tanya sang ustadz kepada istrinya sambil kembali membelai-belai rambutnya.

Istrinya pun menjawab pertanyaan suaminya dengan penuh manja: “Suamiku...! hampir semua majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan ceramah di pengajian, tersentuh hatinya oleh materi ceramahmu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah, termasuk istrimu ini. Bahkan aku pun ikut menagis pula tak bisa menahan haru. Setelah selesai, ibu ketua majelis taklim menyerukan kepada semua ibu-ibu anggota kelompok pengajian agar menginfakkan sebagian hartanya.  Maka dengan ikhlas penuh kesadaran sebagai umat Islam, aku pun menyerahkan pula gelang dan kalung perhiasan itu, bahkan sebagian harta yang masih ada akan aku serahkan pula untuk dikumpulkan oleh ketua pengajian yang selanjutnya akan diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.”
Mendengar jawaban dan penuturan istrinya, sang ustadz bukannya berbangga dengan apa yang telah dilakukan istrinya, tetapi malah kecewa dan sedikit marah: “Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini? Istriku! Semua kata-kata yang aku ucapkan dalam ceramahku tadi, itu bukan untukmu! Akan tetapi... untuk mereka hadirin kelompok pengajian yang lain, bukan engkau tahu!”
Nah, sobat! Jika kita cermati ilusterasi cerita di atas, tentu sangat paradok, bukan? Seorang penceramah yang mengajarkan ajaran syariat agama yang seharusnya harus dicontoh dan diteladani ucapan-ucapannya justru berbuat sebailiknya, tidak adanya satu kata dan perbuatan.  Bukankah Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Tidakkah kamu berfikir?” (QS. Al-Baqarah:44) 
Dengan demikian, sebelum menggebu-gebu menyuruh atau menasehati orang lain untuk berbuat baik atau berperilaku baik, sebaiknya terlebih dahulu melakukan perbuatan baik oleh diri sendiri. Sangat keliru dan salah besar jika menuntut atau menyuruh orang lain memiliki sifat-sifat baik sementara dia sendiri belum memiliki sifat-sifat tersebut. Orang bijak berkata, “Orang yang melihat dan mendidik dirinya sendiri adalah lebih berhak mendapat kehormatan daripada orang yang mendidik dan mengajari orang lain.”
Imam ‘Ali berkata, “Barang siapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku sebelum dengan lisan.”
Demikianlah! Semoga ada manfaatnya, terutama untuk diri saya sendiri! 
Referensi:
Khalil Al-Musawi,2002, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Jakarta: Lentera.
Penulis:
Slamet Priyadi, Pangarakan - Bogor
Posted:
Sita Rosita, Bogor 
 
 "PENDIDIKAN DALAM KELUARGA": Slamet Priyadi: “Mulailah Dari Diri Kita Sendiri”: Slmet Priyadi Blog│Rabu, 04 Juli 2013│14:15 WIB Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu p...

Kamis, 24 Januari 2013

Pembangunan Berdasarkan Cinta Kasih



FAUZI AZIS | TUNAS BANGSA, 14 JANUARI2013 | 16:04 WIB
DALAM lecture, rasanya tidak dikenal nomenklatur seperti judul opini ini, yakni pembangunan berdasarkan cinta kasih. Yang selama ini banyak dibicarakan antara lain adalah istilah pembangunan berwawasan lingkungan atau belakangan sering disebut sebagai konsep pembangunan berkelanjutan.
Yang terkini ini adalah istilah pembangunan inklusif. Zaman Orba kita juga mengenal istilah pembangunan manusia seutuhnya. Yang pasti, semua konsep pembangunan yang disebut tadi intinya sama, yakni berusaha mencari jawaban atas berbagai masalah pembangunan yang dihadapi oleh hampir semua bangsa dan negara di dunia.

Sampai-sampai di PBB, kita kenal ada satu lembaga yang spesial mengurus soal pembangunan, yakni UNDP (United Nation Development Progam). Tapi apakah segudang kebijakan dan progam yang dijalankan oleh PBB atau bangsa-bangsa lain di dunia dengan berbagai model pembangunan dapat menuntaskan segala macam isu masalah pembangunan? Tentu tidak. Tapi pasti ada yang berhasil ada pula yang gagal. Dan ini terjadi karena dinamika kehidupan itu sendiri bersifat dinamis. 

Ada yang mengatakan bahwa pembangunan itu pada dasarnya perubahan. Perubahan itu selalu dinamis dan segala macam bentuk perubahan selalu diarahkan agar kehidupan di segala bidang menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih memberikan harapan hidup bagi segenap mahluk ciptaan Tuhan, apakah manusia, hewan dan tumbuhan.

Manfaatnya harus dirasakan oleh mereka secara adil dan merata. Tidak bisa hanya bermanfaat bagi manusia saja atau sekelompok manusia tertentu. Jika demikian yang terjadi, maka keseimbangan, keselarasan dan keserasian pasti akan terganggu dan pasti akan menimbulkan ancaman dan gangguan dalam habitat kehidupan.

Konsep atau model pembangunan manapun tidak ada yang sempurna karena manusia punya keterbatasan, tapi pada saat yang sama juga punya kepentingan besar maupun kecil. Celakanya lagi, manusia juga punya nafsu/sahwat yang tidak selamanya baik. Nafsu serakah, mau menang dan enak sendiri, ingin menjadi mahluk yang paling berkuasa di muka bumi dan nafsu-nafsu yang lain seperti nafsu “kebinatangan” yang suka muncul menjadi perilaku menyimpang.

Oleh sebab itu, janganlah heran kalau konflik sosial, kerusakan alam dan lingkungan dll di sepanjang masa kehidupan di muka bumi, terus terjadi dengan intensitas dan skala yang berbeda-beda. Apa jawabanya agar semuanya bisa diatasi. Jawabnya adalah bahwa pembangunan itu harus direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan cinta kasih. Pun di dalam pengawasan dan pengendaliannya harus juga berdasarkan semangat menegakkan nilai cinta kasih, bukan asal gebuk yang ujungnya hanya akan mendatangkan perlawanan.

Pembangunan yang mengedapankan nilai cinta kasih akan lebih mampu mengatasi masalah manusia dan kemanusiaannya, seperti soal kemiskinan dan pengangguran, keterbelakangan pendidikan dan kesehatan. Konflik sosial yang bersifat vertikal, horizontal dan diagonal-pun akan dapat diatasi. 

Demikian pula kerusakan alam dan lingkungannya akan tidak terus tergerus oleh erupsi tingkah manusia yang tidak pernah memiliki sense of love dalam hidupnya. Value of love adalah fitroh manusia, bukan hanya untuk kepentingan sesama manusia itu sendiri,tetapi berlaku juga bagi cinta kasih antara manusia dengan mahluk hidup lainnya seperti binatang, tumbuhan dan lingkungannya, yaitu tanah, hutan, air, sungai, danau, laut, oksigen dan udara.

Pembangunan berkelanjutan, pembangunan inklusif, pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan berkeadilan harus bersumber dari konsep pembangunan berdasarkan cinta kasih (development based value of love). GDP dan GNP penting. Pro-growth;pro-poor;pro-job;dan pro-enviroment yang mengakomodasi value of love, hasil yang diharapkan seperti tergambar dalam 4 misi tersebut akan lebih bisa menjawab isu masalah pembangunan yang dihadapi oleh bangsa ini dan bangsa-bangsa lain di dunia. ***

Berita: Buah Bibir
Topik: pembangunan


Jumat, 04 Januari 2013

"KATA-KATA MUTIARA"


* Dr.’Aidh al-Qarni 

Salah satu cara terbaik
Untuk menajamkan
Dan mengontrol pikiran
Adalah melakukan pekerjaan
Yang menyenangkan
Dan bermanfaat
Karena orang-orang
Yang menganggur
Adalah orang-orang
Yang suka mengkhayal
Dan menyebarkan berita
Yang tidak jelas


* MUHAMMAD IQBAL
Alam telah menganugrahkanmu 
sepasang mata baja
penaka mata rajawali
tapi perbudakan
telah meredupkan pandanganmu
seredup pandangan
seekor kelelawar 

Sita Blog: "Banjaran Kasih"  (http://rsbanjaran.blogspott.com)